Senin, 22 November 2010

saudaraku...


Segesit elang, segarang macan, secepat angin…
Sebebas burung, sepandai tupai…
Sekejap…
Baru sekejap aku mengenalmu…
Kau jauh lebih egois
Kau jauh lebih tidak perduli
Kau jauh lebih kasar
Kau jauh lebih menunjak
Aku berkaca pada diriku…
Bahwasanya kita taklah jauh berbeda…
Kawan…
Tak pantas rasanya aku berkata kau tak perduli dan egois
Senantiasa kau mengingatkanku pil-pil indah di botol sana menanti untuk diminum
Senantiasa kau memesan makanan dan minuman padahal baru sekejap kita bersitegang
Tak letih kau mengingatkan seperti tak letihnya kita bercengkerama, memaki, menampar, menantang, memandang sinis
Ciihhhh!!! Persetan pada apa yang terjadi
Bahwa kita hidup hanya sekali…
Bahwa kau mengerti kebebasan yang aku jalani
Bahwa kau tak perduli
Dan aku bahkan lebih tidak perduli
Persetan hari ini
Tak pantas rasanya aku berkata kau menginginkan segala sesuatunya berjalan sesuai keinginanmu
Nyatanya, aku pun sama…
Kau mengajariku kemanusiaan, dalam, teramat dalam dan bergerak cepat
Aku memanggilmu saudaraku…

Dan kau yang di Rinjani sana…
Dan lagi, sekejap walau hanya baru sekejap
Sedalam kasih mata memandang…
Diam, nyatanya senantiasa berpikir
Manis senyuman senantiasa terurai disana,
Penuh kasih, penuh penghargaan…
Kau dan alam…
Persetan cinta, lupakan buku, sejenak menikmati keindahan…
Kawan…
Tak pantas rasanya aku berkata kau meninggalkanku dan mereka
Bahwasanya aku pun pasti melakukan hal yang sama…
Hanya saja, aku terbentur tiang yang kokoh yang bahkan Spartans pun tak mampu meruntuhkannya
Aku dan yang lainnya pasti kesana, dan kau pun wajib menemaninya
Tak perlu banyak berkata-kata
Bahwasanya kau lelaki cerdas yang memahami kondisi hanya saja alam menempa kita berbeda cara…
Kita lebih suka diam dan menulis…
Bahkan hanya menerawang
Kau dan aku pun sama… kita mencintai kebebasan
Hanya saja, kau mengajariku lebih dalam menghargai alam…
Dan menaklukkannya
Memacu derasnya adrenaline ku…
Bergerak untuk menaklukkan segala sesuatunya…
Pulanglah dengan selamat, karna kami menanti ceritamu disini
Menanti sosok penggerak yang memacu kami menuntaskan beratnya tugas ini
Hah..!!  kita nyatanya masih mahasiswa
Menanti bercengkerama bersama
Taklukkanlah rimba disana
Aku memanggilmu, saudaraku…

Kau, kupanggil kau Cengkeh
Renyah suara tawamu, mewarnai suasana…
Aku suka diam mu
Aku suka fleksibilitasmu
Aku suka caramu ceria…
Kau pun sama…
Kita mencintai kebebasan

Kau, kupanggil kau Tina
Walau nyatanya kau jantan
Kau dan teman-temanmu…
Kau, si bontot yang berbadan besar
Senantiasa hadir bila tim memanggil
Kami menyayangimu

Kau, dan rumah om mu…
Kau yang senantiasa hilang
Kawan…
Ada kami disini yang senantiasa hadir dalam diammu
Kau pun sama…
Kita mencintai alam…
Jarang kita bersua namun dering telepon selular menunjukkan namamu
Dan lagi… kau sama seperti mereka mengingatkanku pil-pil indah dibotol sana
Aku suka caramu mengajariku bahasa Jawa…
Paijo, kupanggil kau

Saudara-saudaraku diluar sana…
Yang mencintai ilmu, alam, keindahan, buku, kebebasan, persahabatan serta kemanusiaan…
Kita dalam perjuangan darah yang sama
Satukan cerita kita, bersaudara hingga maut memisahkan…

Dan aku…
Aku…
Kurasa kalian nantinya pasti mengenalku…


2 komentar:

  1. inspirasikan kebebasan...........terbang sendiri lagi,,,jauh mengjar mimpi. trmksh smuanya,,,

    BalasHapus
  2. what the great word.......

    is that poem?????
    hehehehehehehehehehehehe

    BalasHapus